Amalan Wajib dan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri

3 min read

Apa saja amalan yang perlu dilakukan pada malam dan siang Idul Fitri?

JIka kita berhalangan untuk melakukan Sholat Idul Fitri di masjid dan di lapangan, bolehkah kita melakukannya sendiri atau dengan yang lain di rumah?

Bagaimana Niat mengeluarkan Zakat Fitrah?

Pertanyaan–pertanyaan di atas sering kita jumpai, dan tentu saja kita butuh solusinya.

Hari Raya Idul Fitri, baik malam ataupun siangnya, sebagaiman juga ‘Idul Adha, termasuk saat yang mustajab untuk berdo’a.

Mengenai malam Idul Fitri, di dalam sebuah hadist dikatakan, “Ada lima malam ketika doa tidak ditolak pada malam malam itu, yaitu malam pertama Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, dan kedua malam ‘Id (malam Idul Fitri dan Idul Adha).”

Menghidupkan Malam Idul Fitri

Kita disunnahkan menghidupkan malam ‘Idul Fithri, seagaimana juga malam ‘Idul Adha, dengan banyak berdzikir kepada Allah, melakukan sholat, berdo’a, beristighfar, dan mengerjakan ketaatan ketaatan lainnya.

Juga disunnahkan banyak bersedekah banyak bersedekah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Umamah disebutkan, Rasulullah SAW., bersabda: “Barang siapa menghidupkan kedua malam ‘Ied, Allah akan menghidupkan hatinya di hari ketika hati-hati manusia mati”.

Rasulullah SAW., juga bersabda: “Hiasilah dua hari rayamu dengan tahlil, takbir, tahmid, dan taqdis (menyucikan)”. (H.R Jabir dari Anas RA, Al-Jami’ Ash-Shagir 1:23, Faidh al-Qadir 3:63,23).

“Hiasilah hari hari rayamu dengan takbir”.

(H.R Ath-Thabrani dan Anas ra, Al Jamii’u Shogir 1:23)”.

Jadi, merayakan malam hari raya adalah dengan melakukan ibadah shalat (shalat malam), takbir, tahmid, tahlil, dan tilawah.

Hendaklah suara takbir itu dikeraskan dan didengungkan, baik di rumah, di pasar, maupun di jalan jalan, di malam hari hari maupun siangnya , untuk menampakan syiar hari raya.

Kita mengumandangkan takbir di mana saja tempat yang layak untuk itu, karena takbir merupakan syiar hari raya.

Sedangkan doa yang baik untuk dibaca pada malam ‘Idul Fitri setelah kita selesai menunaikan ibadah sholat fardhu Maghrib dan shalat sunnah sesudahnya di antaranya adalah doa berikut:

Ya dzal-manni wath-thawil ya dzal judi ya mushthafiya muhammadin wanashirahu, shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala ali sayyidina muhammadin waghfir li kulla dzanbin ahshaytahu wa huwa ‘indaka fi kitabin mubin.

Hal hal yang Disunnahkan pada Hari ‘Idul Fithri

Banyak perkara yang disunnahkan pada Hari Raya ‘Idul Fithri, diantaranya adalah makan sedikit sebelum pergi shalat ‘Idul FIthri.

Namun pada Hari Raya ‘Idul Adha kita disunnahkan tidak makan apa apa sampai selesai shalat ‘Id. Disunnahkan pula mandi dan memakai wangi wangian pada pagi hari serta memakai pakaian terbaik yang kita miliki.

Hal lain yang disunnahkan adalah pergi ke tempat shalat ‘Id dengan memaca takbir dan teru menerus bertakbir hingga imam masuk shalat.

Dan yang utama menurut sunnah, pergi dan kembali dari sholat melalui jalan yang berbeda.

Sholat ‘Idul Fitri

Shalat ‘Idul Fithri, sebagaimana juga shalat ‘Idul Adha, menurut jumhur ulama hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi orang yang waji melakukan shalat jum’at.

Dan sunnah menunaikannya secara berjama’ah. Boleh juga mengerjakannya sendiri, namun itu kurang utama. Sekurang kurangnya berjama’ah adalah dua orang, yakni imam dan makmum.

Disunnahkan dua khutbah bagi orang yang melakukannya dengan berjam’ah, meskipun hanya berdua.

Jadi, apabila berhalangan pergi ke masjid atau ke lapangan, karena sedang sakit yang tidak memumgkinkan Anda keluar rumah, misalnya, Anda dapat melakukannya seorang diri di rumah. Atau bila ada orang lain di rumah, An,da bisa melakukannya berjama’ah dengannya.

Imam Al Bukhori berkata, “Apabila seseorang tidak mendapatkan shalat ‘Id bersama berjama’ah, hendaklah dia melakukan shalat dua rakaat juga. Demikian pula para wanita dan orang orang di gurun gurun. Ini mengingat sabda Nabi SAW., ‘Ini adalah hari raya kita, umat Islam’”.

Amat disukai kita mandi dan memakai wangi wangian pada pagi hari raya ini serta memakai pakaian terbaik yang kita miliki.

Al Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW., meriwayatkan, “Pada setiap hari raya, Rasulullah SAW menyuruh kami agar mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai minyak wangi terbaik yang kami punya, dan menyembelih hewan quran termahal yang kami mampu sediakan”.

Ketika pergi ke tanah lapang atau ke masjid untuk menunaikan shalat ‘Idul Fthri, disunnahkan kita berjalan kaki seraya mengucapkan takbir dengan nyaring dan terus menerus.

Disunnahkan pula mengajak kaum perempuan yang dewasa maupun yang masih remaja, telah bersuami maupun yang masih gadis, demikian pula anak anak, untuk menghadiri shalat hari raya.

Bahkan, perempuan yang sedang haid dianjurkan juga untuk hadir mendengarkan khutbah. Tetapi jika pelaksanaannya di dalam masjid, perempuan yang sedang haid itu harus mencari tempat tersendiri, tidak masuk ke dalam masjid.

Hendaknya kaum wanita yang akan melakukan shalat ‘Id tidak memakai pakaian yang berlebihan, tidak berdandan secara mencolok, dan tidak memakai wangi wangian yang kuat aromanya, karena akan menjadikan mereka sebagai sumber fitnah (godaan).

Kaum laki laki mungkin akan tergoda dengan penampilan yang demikian dan mungkin juga akan menggoda, sehingga merugikan kedua belah pihak.

Shalat ‘Idul Fithri dikerjakan dua rakaat seperti shalat yang lain, dan tidak ada shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. Kecuali apabila dilakukan di masjid, tetap disunnnahkan melakukan shalat Tahiyyatul Masjid sebelum duduk.

Pada setiap rakaat sebelum memaca surat Al Fatihah, kita disunnahkan membaca beberapa takbir tambahan. Pada rakaat pertama, kita membaca tujuh kali takbir (selain takbiratul ihram) setelah memaca doa Iftitah, dan pada rakaat kedua membaca lima kali takbir selain takbir ketika bangkit dari sujud.

Mengenai apa yang dibaca di antara satu takbir dan takbir lainnya, ada beberapa pendapat, sebagaimana yang diuraikan oleh An Nawawi dalam kitabnya, al Adzkar. Menurut mayoritas ulama, kita disunnahkan mengucapkan kalimat berikut:

Subhanallahi wal-hamdu lillahi wa la ilaha illallhu wallahu akbar.

“Maha Suci Allah, dan segala puji bagi-Nya. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, Allah Maha Besar”.

Seandainya bacaan tersebut tidak dibaca, bahkan bila takbir takbir tambahan itu juga tidak dibaca, shalatnya tetap sah dan tidak perlu melakukan sujud sahwi. Hanya sja ia tidak mendapatkan keutamaan.