Mengangkat Tangan Saat Berdoa Sesuai Sunnah

4 min read

√ Sesuai Sunnah Rasulullah membahas Secara Lengkap tentang Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa disertai Dalil Hadist, Tata Cara,
dan Maknanya

Dalam al-Quran di surah al Ghafir ayat 60, Allah Swt. menyebut orang-orang yang tidak mau berdoa pada-Nya dengan sebutan sombong dan mengancam  mereka dengan neraka.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Doa berarti berharap kepada Allah subhanahu wa ta’alla, menjadi hal yang begitu lekat dengan kita. Terlebih banyak sekali doa-doa harian yang sudah kita hapal sejak kecil.

Berdoa bukan semata sarana meminta dan berkeluh kesah, tetapi juga cara kita sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa

Sebagaimana ibadah yang lainnya, berdoa pun harus sesuai dengan tuntunan sunnah, bagaimana tata cara berdoa, adab berdoa, juga keutamaannya.

Tidak ada yang lain kecuali berdoa adalah sebagai bentuk pengharapan kita sebagai seorang hamba, juga supaya bertambah iman dan kedekatan seorang kita kepada Allah subhanahu wa ta’alla.

Mengangkat tangan saat berdoa adalah perbuatan sunnah, juga sebagai salah satu yang menyebabkan terkabulnya sebuah doa yang dipanjatkan. Di antara hadist yang menjelaskan tentang mengkat tangat ketika berdoa adalah riwayat Imam Bukhori.

Jumhur para ulama bahwa pada asalnya mengangkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan juga merupakan adab dalam berdoa.

Dalil Hadist Mengangkat Tangan Saat Berdoa

Imam Bukhari menjadikan bab khusus tentang mengangkat tangan ketika berdoa. Diantara riwayat-riwayat tersebut adalah hadist yang diriwayatkan dari Abu Musa al  Asy’ari yang menyampaikan demikian:

دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنْ النَّاسِ

Nabi shalallau ‘alaihi wa sallam. meminta diambilkan air, lalu beliau berwudhu, lalu beliau mengangkat tangannya sambil berdoa: “Ya Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir.”

Hingga aku melihat putih ketiaknya. Lalu, beliau melanjutkan do’anya: ‘Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dari orang yang terbaik di antara manusia di hari kiamat nanti.’

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا

Dari Abi Humaid as Saa’idiy radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shalallau ‘alaihi wa sallam. memperkerjakan seorang laki-laki dari suku Al Azdi sebagai pengambil zakat.

Ketika tibalah dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”.

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Biarkanlah dia tinggal di rumah ayahnya atau ibunya, lalu dia lihat apakah benar itu dihadiahkan untuknya atau tidak.

Dan demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak ada seorang pun yang mengambil sesuatu dari zakat, kecuali dia akan datang pada hari kiamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”.

Kemudian, beliau mengangkat tangan, sehingga terlihat oleh kami ketiaknya yang putih dan (berkata,):

“Ya Allah bukankah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan” sebanyak tiga kali”.    

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

Anas bin Malik berkata, bahwa “Nabi shalallau ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengangkat tangannya saat berdoa, kecuali ketika berdoa dalam shalat istisqo’. Beliau mengangkat tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.”

Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51).

Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172).

Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu.

Ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556)

As Shon’ani menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak”

Dalil hadist mengangkat tangan saat berdoa lainnya diantaranya:

Riwayat dari Ibnu Majah & Tirmidzi

“Dari Salman al Farisi dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam., beliau bersabda; Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Pemurah, Malu dari Hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian mengembalikannya dengan tangan hampa.”

Riwayat dari at Thobrani

“Dari Salman ra, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah satu kaum yang mengangkat telapak tangannya ketika meminta sesuatu kepada Allah, kecuali ada haq bagi Allah untuk memberikan pada tangan apa yang mereka minta”

Riwayat al Hakim

“Telah mengabarkan padaku, Anas bin Malik berkata, Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt., Maha Pemurah, Maha Hidup, lagi Maha Mulia, malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangan pada-Nya, kemudian tidak memberikan pada kedua tangan tersebut kebaikan.”

Riwayat Abu Dawud

“Dari Malik ibn Yasar as-Sukuni sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika kalian meminta pada Allah Swt, mintalah dengan telapak tangan, jangan dengan punggung tangan kalian.”

Riwayat at-Turmudzi

“Dari Umar bin Khathab ra ia berkata; Rasulullah Saw apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka Beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya.”

Dari beberapa hadits tersebut, dapat diambil sebagai hujjah tentang disunnahkannya mengangkat tangan ketika berdoa.

Selain karena hal tersebut merupakan adab dalam berdoa dan merupakan cara yang paling sering dipraktikkan oleh Rasulullah Saw.

Waktu Mengangkat Tangan Saat Berdoa

Adapun waktu-waktu mengagngkat tangan ketika berdoa, yaitu berdoa sesuai dengan waktu dan keadaan yang utama

  1. Berdoa pada waktu-waktu yang utama, dianjurkan untuk:
    • Doa hari Arafah
    • Doa hari Jumat
    • Doa hari-hari di bulan Ramadhan
    • Doa waktu sepertiga malam terakhir seusai shalat malam
  2. Berdoa di keadaan-keadaan yang diutamakan
    • Doa saat turun hujan
    • Doa sebelum dan setelah shalat fardhu di masjid
    • Doa diantara Adzan dan Iqomat
    • Doa di antara dua khutbah Jumat
    • Doa saat sujud terakhir.

Tata Cara Mengangkat Tangan Saat Berdoa

Menurut al Imam An Nawawi, tata cara mengangkat tangan saat berdoa disesuaikan dengan tujuannya.

Menempatkan Punggung Tangan ke arah bumi

Apabila seseorang berdoa agar bencana yang dialaminya berkurang, maka disunahkan mengangkat kedua tangannya dengan menempatkan punggung tangan ke arah bumi.

Menghadapkan Telapak Tanaggn ke langit

Sebaliknya, apabila berdoa untuk mendapatkan sesuatu, maka hendaknya ia menghadapkan telapak tangannya ke langit. Hal yang demikian merupakan adab berdoa.

Setinggi Kedua Belah Bahu

Adapun ukuran mengangkat tangan saat berdoa adalah setinggi kedua belah bahu.

Dijelaskan dalam  kitab I’anatut Thaibin juz II diterangkan:

ورفع يديه الطاهرتين حذو منكبيه ومسح الوجه بهما بعده

Artinya: “Dan diwaktu berdoa disunnahkan mengangkat kedua tangannya yang suci setinggi kedua bahu, dan disunnahkan pula menyapu muka dengan keduanya setelah berdoa.”

Penjelasan ini ditambahi dalam kitab Al Hawasyil Madaniyyah oleh Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Kurdy 

وغاية الرفع خذو المنكبين الا اذا شتد الأمر

Artinya: “Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu, kecuali apabila keadaan sudah amat kritis, maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu.” 

Makna Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Ketika berdoa, kita dianjurkan untuk mengangkat tangan sesuai sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dicontoh oleh umatnya.

Adapun makna dari mengangkat tangan saat berdoa:

Pertama, mengangkat tangan saat berdoa merupakan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua, mengangkatkan tangan ke atas hanya merupakan arah doa saja, sebagaimana Ka’bah sebagai kiblat/pusat dari arah ketika kita sembahyang.

Ada baiknya kita melihat pandangan Imam Al Ghazali mengenai anjuran mengangkat tangan ke atas ketika berdoa, seperti di dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai berikut:

فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء

Artinya, “Adapun perihal mengangkat tangan ke arah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya qiblat doa.

Hal ini juga mengisyaratkan bahwa sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai dzat yang dimintakan pertolongan. Adapun mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,”

Keterangan Imam Al Ghazali di atas jelas mengatakan bahwa “atas” hanya kiblatnya doa sebagaimana Ka’bah kiblatnya sembahyang.

Arah atas merupakan simbol ketinggian, kemuliaan, keluhuran, dan kebesaran dzat Allah subhanahu wa ta’alla.

Wallahu ‘alam bi showab.